Tanda Pelemahan Ekonomi Nasional, Perajin Tempe Keluhkan Harga Kedelai
Gejolak nilai tukar mata uang yang terjadi belakangan ini mulai memukul sektor industri skala kecil di tanah air, khususnya para perajin tempe lokal. Ketergantungan yang tinggi terhadap pasokan kedelai impor asal Amerika Serikat membuat ongkos produksi melonjak drastis dalam beberapa waktu terakhir.
Lonjakan harga tersebut langsung menekan sektor hilir penyedia sumber protein nabati yang selama ini menjadi andalan masyarakat luas. Persoalan ini memperlihatkan bagaimana tekanan makroekonomi dapat merembet secara cepat hingga ke tingkat produsen rumahan.
"Jika ini terus berlanjut, keuangan keluarga kami akan menjadi kacau-balau," ujar Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Tempe, Ahmad Saikhu, menggambarkan situasi sulit yang dialami ribuan anggotanya.
Ahmad menambahkan bahwa pemerintah dinilai belum mampu mengendalikan stabilitas harga di lapangan secara optimal. Kondisi tersebut memaksa para pelaku usaha memutar otak dengan memperkecil ukuran potongan tempe tanpa menaikkan harga eceran.
Asosiasi mencatat terdapat sekitar 4.000 produsen yang tergabung dalam jaringan mereka dan kini berisiko gulung tikar dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan ke depan apabila tidak segera mendapat intervensi kebijakan yang efektif.
Artikel Lainnya
Presiden Prabowo Subianto resmi mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia ke DPR untuk ...
PT Bursa Efek Indonesia menorehkan pencapaian tertinggi sepanjang sejarah dengan mencatatkan penambahan 9,9 juta investo...
Pemerintah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, mendapatkan kucuran tambahan Dana Transfer ke Daerah senilai Rp277 milia...
Badan Pusat Statistik merilis hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan tahun 2026 di Jakarta. Berdasarkan sur...
Lion Parcel meluncurkan layanan terbaru bernama MINIPACK guna mengakomodasi lonjakan pengiriman paket berbobot ringan di...