Selasa, 11 Agustus 2026

Polemik Anggaran Sekolah Rusak dan MBG, Sudaryono Sebut Tak Fair

Perbandingan antara bangunan fasilitas Makan Bergizi Gratis yang baru dengan kondisi sekolah rusak di media sosial memicu perdebatan publik terkait prioritas anggaran negara. Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menegaskan bahwa membandingkan kedua hal tersebut tidak adil karena bersumber dari skema pembiayaan yang berbeda.

Jagat maya di Indonesia sempat dihebohkan oleh kontras visual antara fasilitas dapur Makan Bergizi Gratis yang tampak modern dengan bangunan sekolah yang mengalami kerusakan parah. Kondisi tersebut memicu spekulasi publik bahwa anggaran negara lebih diutamakan untuk program gizi ketimbang renovasi ruang kelas yang terbengkalai.

Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono menyatakan bahwa perbandingan tersebut tidak tepat karena kedua program berjalan melalui jalur administratif dan waktu yang berbeda. Menurutnya, kerusakan fasilitas sekolah sudah terjadi jauh sebelum program gizi nasional digulirkan oleh pemerintah.

"Kalau kemudian dibanding-bandingkan, menurut saya itu tidak fair," ujar Sudaryono saat merespons isu viral terkait kondisi salah satu fasilitas pendidikan di daerah.

Pengamat kebijakan publik Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah, menilai argumen pemisahan skema pendanaan tersebut sejalan dengan arah penataan anggaran yang ideal. "Anggaran MBG itu tidak boleh dicantolkan dengan anggaran-anggaran lainnya," ungkap Trubus memberikan pandangannya.

Di sisi lain, Mahkamah Konstitusi melalui Putusan Nomor 40/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa alokasi minimal 20 persen anggaran pendidikan harus murni diperuntukkan bagi komponen utama sekolah dan peserta didik tanpa mencampurinya dengan program gizi.

Redaksi Rafael Ribeiro
Redaksi Rafael Ribeiro
Tim redaksi Rafael Ribeiro News yang menyajikan berita terkini dan terpercaya dari berbagai bidang.
Redaksi Rafael Ribeiro adalah tim jurnalis profesional yang berdedikasi untuk menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya dari berbagai bidang. Tim redaksi bekerja dengan kode etik jurnalistik yang ketat dan selalu mengutamakan kepentingan publik dalam setiap pemberitaan.