Ratusan Rumah Ludes Dilalap Api, Korsleting Listrik Jadi Momok Menakutkan Warga Jakarta
Kobaran api dengan cepat melahap ratusan rumah warga di Jalan Batu Ceper, Kelurahan Kebon Kelapa, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat, pada Senin siang (31/8). Sebanyak 310 kepala keluarga atau sekitar 880 jiwa harus mengungsi setelah tempat tinggal mereka ludes tak tersisa akibat amukan si jago merah.
Berdasarkan data pemerintah provinsi, kasus di Gambir menambah panjang daftar insiden si jago merah yang terus berulang di berbagai wilayah padat. Sepanjang periode Juli hingga Agustus 2026, tercatat ada 457 kejadian kebakaran dengan faktor kelistrikan sebagai pemicu paling dominan.
"Hampir 95 persen karena korsleting listrik, artinya kembali kepada masyarakat sendiri untuk melihat lagi jaringan listrik di rumah," ujar Wakil Gubernur DKI Jakarta, Rano Karno, menyoroti akar permasalahan yang kerap berulang.
Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, menilai bahwa risiko kebakaran kian berlipat ganda tatkala korsleting terjadi di lingkungan dengan jarak antarbangunan yang sangat rapat dan minim akses jalan. "Tingkat kerapatannya harus diperhatikan guna mencegah perambatan api yang lebih luas," jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta, Marulitua Sijabat, mengimbau warga agar senantiasa menggunakan perangkat kelistrikan berstandar SNI. "Kami mengimbau warga untuk berkoordinasi dengan pihak PLN guna melakukan pengawasan terhadap aliran listrik," tuturnya.
Artikel Lainnya
Kebakaran hutan dan lahan yang terus berulang di kawasan ekosistem gambut memicu kekhawatiran serius terhadap pencapaian...
Kejaksaan Agung menyita uang tunai dan barang mewah senilai total Rp8,4 miliar milik mantan Kepala Badan Gizi Nasional D...
Kasus keracunan massal yang menimpa puluhan ribu peserta didik dalam program Makan Bergizi Gratis memicu gelombang kriti...
Majelis hakim tingkat banding memutuskan untuk mengurangi masa hukuman penjara serta membatalkan sanksi pemecatan terhad...
Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono angkat bicara mengenai polemik siswa yang tetap diminta mengambil program Makan Ber...